Nice Homework #3 : Membangun Peradaban dari dalam Rumah


NHW #3
MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH
Image Source : Pinterest

Oleh :
Dyah Ariani Pratiwi
Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #6 – Bandung 1

Alhamdulillah, pada tahun ini, pernikahan kami genap berusia lima tahun. Bila diibaratkan dunia akademis, kami ini seperti mahasiswa yang baru lulus mengenyam bangku sarjana. Artinya perjalanan kami masih panjang. Setahun menikah, hadirlah putri sulung kami, Haana di tengah – tengah kami berdua. Ketika Haana berusia hampir tiga tahun, hadirlah anak kedua kami, Raziq, yang semakin melengkapi keceriaan di rumah kami.

Saya dan suami dipertemukan oleh Allah SWT dengan cara yang tak biasa. Tanpa proses pacaran dan bahkan hanya menjalin komunikasi jarak jauh, Bandung - Madiun. Sejak memulai proses ta'aruf hingga waktunya ijab kabul, kami hanya beberapa kali bertemu, mungkin tidak lebih dari lima kali saja. Alhasil, setelah menikah, kami harus berjuang melewati banyak sekali proses penyesuaian yang bisa dibilang tak mudah juga, bahkan proses itu pun masih berlanjut hingga sekarang.

Proses saling mengenali pasangan, proses adaptasi menjalani peran baru, proses belajar menjadi istri dan ibu yang dapat menjadi kebanggaan keluarga, bahkan proses penggalian jati diri dan berdamai dengan kegalauan, itu semua mau tidak mau harus dijalani bersamaan. Seolah selalu merasa kekurangan waktu. Di saat belum menemukan klik dengan pasangan, sudah harus beradaptasi dengan peran baru sebagai ibu. 

"HHN....Hadapi...Hayati...Nikmati", pesan Aa Gym , di salah satu ceramah beliau beberapa tahun yang lalu kala saya menjalani program Santri Siap Guna di Pesantren Daarut Tauhiid itu merupakan kata - kata penyelamat saya dalam menjalani beratnya suatu proses.

Saya pun hanya bisa berikhtiar, berkomitmen, dan terus berjuang berproses memperbaiki diri dan meng-upgrade keilmuan serta keahlian menjadi Istri dan Ibu kebanggan keluarga. Dan Alhamdulillah, insyaAllah semua yang saya lakukan selalu atas izin, ridlo, dan bahkan support suami. 

Saya pun menjadi peserta perkuliahan di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #6. Melalui serangkaian proses di kelas, mulai dari membaca materi, menyimak kuliah tamu, sharing, berdikusi, brain storming, mengalirkan rasa, kemudian dilanjutkan dengan mengikat semua pengalaman rasa tersebut dengan menuliskannya dari hati sehingga kata demi kata yang hadir berharap memiliki ruh agar bisa menggerakkan hati yang membaca setiap tulisan saya.

Semoga ini menjadi langkah awal keluarga kami menjadi keluarga yang lebih berkualitas sehingga dapat berperan dalam peradaban. Ya, membangun peradaban dari dalam rumah...😍. Aamiiin

Tugas pada NHW#3 ini terbagi menjadi empat bagian, yaitu:

1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak – anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon suami.

Alhamdulillah, sehari sebelum saya membuat tulisan ini, akhirnya saya bisa menuliskan surat cinta untuk suami tercinta. Tulisan saya tentang surat cinta ini dapat dibaca pada http://mylittlesafari.blogspot.com/2018/08/aku-memilih-engkau-sebagai-lelakiku.html

Saya membuat surat cinta itu dengan diam - diam, karena memang niat hati ingin memberikannya kepada suami sebagai kejutan. Alhamdulillaaaah....suami hanya bisa terdiam terkejut kala saya memberikan handphone yang sudah saya buka pas link tulisan surat cinta.



"Yang, ini dibaca ya", pesan saya yang kemudian langsung ngacir kabur karena jujur saya pun sangaaatlah malu, seumur - umur tidak pernah membuat surat cinta...πŸ™ˆ



Beberapa waktu kemudian, saya pun kembali menghampiri suami dengan tersenyum malu - malu.
"Bagaimana, yang?", tanya saya pada suami



Daaaan....respon pak suami hanya bisa terduduk sambil malu - malu menutup wajahnya yang memerah. Aaawww...so sweeeet...😁😁😁



2. Lihatlah anak - anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing - masing.
Alhamdulillah setelah merenungi semua polah tingkah anak sulung saya selama ini, maka saya mencoba menuliskan potensi dirinya yang memang sudah mulai dapat terlihat. Proses ini lumayan berbeda dari adiknya. Saya butuh waktu yang lebih lama dalam merenungi dan menggali potensi diri anak kedua saya, karena memang usianya masih 1,5 tahun, sehingga belum terlalu terlihat jelas, masih teraba samar - samar. Namun untuk si adik, alhamdulillahnya memang sudah terlihat beberapa kecenderungan - kecenderungannya.  

3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah – tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki.

Hmm...proses penggalian kekuatan diri saya lakukan melalui beragam tes potensi diri, antara lain mencoba fasilitas st30 dari www.temubakat.com. Dan diperoleh hasil berupa pemetaan potensi kekuatan dan potensi kelemahan. Potensi kekuatan saya berdasarkan tes 30 bakat peran sebagai adalah Commander, Creator, Designer, Journalist, Quality Controller, Synthesizer, dan Visionary.

Kemudian pada suatu sesi family coaching yang saya dan suami ikuti, kami diminta mengenali potensi diri melalui DISC model. Hasilnya saya termasuk ke dalam I & D. Sedangkan suami termasuk D & C. Kami berdua sama - sama dipertemukan melalui karakter dominan (D). Karakter D ini memiliki kecenderungan task oriented, fokus pada hasil, sangat mendominasi, dan sangat directing. Karakter I ini memiliki kecenderungan people oriented, fokus pada proses, interesting, interactive, dan influenting

Suami yang termasuk D & C, memang benar adanya. Karakternya selalu yang menjadi penentu dan pengambil keputusan utama dalam keluarga kami. Kemudian dilengkapi dengan karakter C (Correct, Compliant, dan Controlled), membuatnya menjadi pribadi yang senang mengontrol segala sesuatu, tertib, konsisten, komitmen, selalu tepat waktu, dan selalu penuh perhitungan. Kami berdua sama - sama memiliki karakter D, tetapi karena saya lebih banyak ke karakter I, alhasil tidak terlalu terjadi benturan.

Justru dari karakter C suamilah yang sangat sering menyebabkan benturan. Saya dengan karakter I, membuat saya menjadi pribadi yang santai, fleksibel, tidak suka hitung - hitungan, berjiwa spontan, tidak suka terukur dan terencana, senang berbagi cerita, dan masih banyak lagi. Karakter saya yang I dengan karakter suami yang C sangatlah bertolak belakang. Dengan demikian, saya dan suami harus bisa melawan ego masing - masing agar mampu untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam menjalani peran sebagai pasangan dan perah ke-ayahbunda-an.

Dalam keseharian kami menjalani fitrah peran sebagai ayah dan bunda, suami dengan kecenderungan D & C membuatnya kesulitan dalam menghadapi ledakan emosi anak. Nah, disanalah saya dengan kecenderungan I & C harus masuk berperan aktif membantu suami menterjemahkan emosi anak dan meredakannya. Sebaliknya, ketika anak sudah mengenal dunia sekolah, maka kami berdua harus bisa tertib dan konsisten dengan rutinitas jadwal anak di pagi hari. Nah, untuk rutinitas inilah peran suami sebagai ayah yang lebih aktif membantu, karena saya akan sangat kesulitan dalam menghadapi suatu rutinitas yang terukur dan terencana.

Yup, inilah kami berdua, dua pribadi dengan karakter yang jelas berbeda, dengan anugerah fitrah seksualitas yang berbeda, dan anugerah peran ke-ayahbunda-an yang juga berbeda. Allah SWT menyatukan kami berdua untuk membangun keluarga bersama, tak lain dan tak bukan agar kami bisa saling melengkapi, agar bisa saling mem-back up kekurangan pasangan, agar kami bisa saling melejitkan potensi masing - masing, dan terutamanya agar kami bisa selalu bertumbuh dan berkembang bersama dalam menjalani setiap potensi dan peran yang Allah SWT amanahkan pada kami berdua. Semoga proses penggalian potensi diri ini, membantu kami berdua membangun peradaban dari rumah sebagai home team yang solid, Aamiiin.

4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Lingkungan tempat tinggal merupakan lingkungan hunian sistem komplek dan cluster. Alhamdulillah kami dikelilingi oleh tetangga yang baik dengan pola dan karakter yang sama. Saya dan tetangga - tetangga memiliki pola yang sebagian besar sama, suami bekerja, istri pun punya aktivitas di luar rumah, praktisnya suami istri hanya full berada di rumah waktu weekend. Alhasil, interaksi dengan tetangga jarang. Hanya bisa berkumpul saat ada momen - momen tertentu saja dan tidak bisa setiap hari bertemu, seperti momen agustusan, liburan sekolah, dan sebagainya.

Saya dan tetangga memiliki karakter yang sebagian besar sama yakni sama - sama keluarga muda dan pasangan muda dengan satu atau dua bahkan lebih dari dua anak. Dengan demikian ada hikmah kenapa kami ditakdirkan tinggal di lingkungan rumah yang sekarang,  alhamdulillah, anak - anak kami jadi memiliki banyak teman - teman sebaya di lingkungan tempat tinggal. Namun dibalik semua kemudahan itu semua, tetap ada tantangan yang harus kami hadapi. 

Karena berada di lingkungan dengan pola dan karakteristik yang sama, bahkan dengan usia anak - anak yang sama. Justru bagi kami berdua, seringkali dapat menimbulkan sikap membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Ketika anak lain sudah memiliki pencapaian yang jauh, seringkali tanpa sadar kami sering menyebutkannya dihadapan anak - anak. Seperti misalnya, ketika melihat ada anak lain yang sudah sukses toilet training, tetapi anak kami belum, maka seringkali tanpa kami sadari, kami mengucapkannya di hadapan anak kami kala kami kelelahan dalam mengendalikan emosi. Tapi lambat laun kami sadar akan kesalahan kami itu, kami berdua pun berusaha terus belajar menerima fitrah dan potensi yang Allah SWT install pada diri anak - anak kami. Kami berdua berjuang untuk dapat memantaskan diri sebagai orangtua terbaik bagi anak - anak kami, karena bagi kami, setiap anak itu terlahir hebat.

Salam (calon) Ibu Profesional

Dyah Ariani Pratiwi (Bunda Haana & Raziq)
l

Komentar